Sekilas Info

Location Quotient (LQ) Dalam Penentuan Komoditas Unggulan Perkebunan di Provinsi Jambi.

Shanty, SP

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembangunan berkelanjutan yang dilaksanakan oleh pemerintahan daerah di Indonesia sejak adanya otonomi daerah harus terintegrasi antar berbagai sektor. Pembangunan perekenomian daerah tersebut dalam era globalisasi saat ini memiliki konsekuensi seluruh daerah di wilayah menghadapi persaingan yang semakin lama semakin ketat. Dan untuk itu perlu ada upaya-upaya dalam meningkatkan kualitas potensi unggulan daerah termasuk sumberdaya alam dan kualitas sumberdaya manusia khususnya.

Pendekatan utama dalam mengatasi tantangan tersebut adalah melalui pengembangan komoditas unggulan dengan mengutamakan peningkatan daya saing sebagai dasar dalam pertumbuhan ekonomisuatu daerah.

Untuk mencapai kesuksesan pelaksanaan pemerintah daerah memerlukan komitmen yang kuat seiring dengan penetapan pemerintah daerah berdampak terhadap upaya pengembangan potensi daerah melalui kegiatan agribisnis dibidang perkebunan dan lembaga penunjang lainnya. Fokus kegiatan terhadap pembangunan pertanian akan menghasilkan sistem pertanian yang tangguh dan bermuara kepada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat Provinsi Jambi secara garis besar berada pada daerah pedesaan dan masih bergantung kepada usaha pertanian dan turunannya yang dapat kita lihat pada usaha dan mata lapangan pekerjaan utamanya sebagaimana data berikut :


Dari  angka 1.721.362 jumlah tenaga kerja, sektor pertanian begitu mendominasi lapangan pekerjaan utama di semua kabupaten/kota di Provinsi Jambi kecuali Kota Jambi dan Kota Sungai Penuh yang merupakan wilayah administrasi di Provinsi Jambi yang berstatus kota. Pola yang ada di Kota Jambi dan Kota Sungai Penuh menggambarkan keadaan mirip dengan karakterisitik perkotaan pada kota-kota lainnya di Indonesia. Sedangkan untuk kabupaten lainnya, lapangan pekerjaan utamanya mempunyai pola yang sama satu sama lainnya, yaitu didominasi oleh sektor pertanian (A), Sektor Jasa (S) berada pada urutan kedua dan disusul oleh sektor Industri (M).


Keberadaan komoditas unggulan pada masing-masing sektor-subsektor tersebut sangat menentukan perkembangan dan pertumbuhan dari masing-masing sektor – subsektor tersebut. Sehingga penentuan atau identifikasi komoditas unggulan mutlak dilaksanakan untuk menentukan fokus dan arah yang jelas dalam pengembangan dan pengelolaan komoditas unggulan pada sektor-subsektor tersebut. Secara umum penentuan dan penilaian terhadap suatu komoditas menjadi komoditas unggulan daerah didasarkan pada keunggulan komparatif (comparative advantage) dan keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang dimiliki dari masing-masing komoditas-komoditas tersebut.

 Berdasarkan Statistik Perkebunan Provinsi Jambi 2017, luas total lahan perkebunan Provinsi Jambi seluas 1.936.145 Ha, terdiri 673.350 ha perkebunan karet,1.039.920 ha perkebunan sawit, 45.924 ha perkebunan kayu manis, 118.695 ha perkebunan kelapa dalam, 27.166 ha perkebunan kopi, 20.985 ha perkebunan pinag, 2.432 ha perkebunan coklat dan sisanya lada, kemiri, cengkeh, aren, teh, tebu, nilem, pala, kapuk dan panili seluas 7.673 ha. Sektor perkebunan, khususnya sawit dan karet memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian Provinsi Jambi dengan kontribusi PDRB 58% dari konrtibusi sektor pertanaian, perikanan dan kehutanan. Tidak salah apa bila masyarakat mengatakan, jika harga sektor perkebunan khususnya karet, sawit, pinang dan coklat stabil bahkan naik, maka denyut jantung perekonomian Jambi berdetak kencang. Begitu pula sebaliknya bila harga komoditas perkebunan anjlok, maka sangat terasa sekali denyut jantung ekonomi masyarakat Jambi melemah.

 Pada sisi lain, besarnya potensi sektor perkebunan di Provinsi Jambi belum sepenuhnya diiringi dengan pengembangan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan baik pemilihan lahan, persiapan lahan dan dalam  budidayanya sendiri. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab menurunya produktivitas lahan pada jangka panjang, kerusakan lingkungan baik lahan, air udara dan erosi. Klaim beberapa negara tetangga, bahwa lahan perkebunan Jambi telah mengokupasi hutan lindung (black  campaigne) dan mengalih fungsikan lahan beririgasi menjadi lahan perkebunan sawit.

 Berdasarkan potensi sumberdaya alam dan manusia di Provinsi Jambi, Penulis mencoba menelaah dan menganalisa potensi pengembangaan perkebunan Provinsi Jambi Yang Berkelanjutan Dengan Menggunakan Alat Ukur Location Quotient (LQ).

 Tujuan dan Manfat

 Tujuan

 Mengidentifikasi jenis dan kuantitas produk unggulan pada sektor perkebunan melalui pendekatan Komoditi Unggulan dengan Location Quotient (LQ).

 Manfaat

 Sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan pembangunan daerah di Kabupaten/kota agar kebijaksanaan pembangunan dapat dilakukan secara tepat sesuai kondisi dan potensi wilayah.selain itu, akan mempemudah pemerintah untuk mengkoordinasikan pelaksanaan pembangunan daerah pada Wilayah Pembangunan masing-masing yang bermuara pada pertumbuhan wilayah yang lebih merata di bawah kontrol pemerintah daerah.

Memberikan masukan tentang komoditi unggulan Sektor Perkebunan Provinsi Jambi, sehingga dapat dijadikan tambahan informasi dalam pembangunan regional dan juga sebagai referensi bagi yang membutuhkannya.

 

 =====================

TINJAUAN PUSTAKA DAN ANALISA

1. Pengertian dan Istilah

Pengertian Perkebunan

Adapun definisi kebun menurut pendapat para ahli, antara lain adalah sebagai berikut;

Pengertian dan definisi yang digunakan dalam Buku Pembakuan Statistik Perkebunan 2007 mengacu pada UU No 18 Tahun 2004 mengenai Perkebunan serta Buku Konsep dan Definisi Baku Statistik Pertanian (BPS). Kebun adalah serangkaian kegiatan pertanian yang dilakukan untuk mengelola tanah dengan tanaman tertentu yang di sesuaikan dengan ekosistem sesuai. Sehingga sistem pengelolaan dilandasarkan pada menejeman, pengetahuan, teknolohi dan permodalan yang baik agar mampu mengeluarkan hasil yang maksimal.

Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan (2004); Definisi perkebunan adalah pengelolaan tanah yang dilakukan dengan kurun waktu semusim/tahunan sehingga diharapkan dapat memberikan hasil yang maksimal dalam bidang pertanian.

Komoditas Unggulan

Komoditas Unggulan adalah komoditi potensial yang dipandang dapat dipersaingkan dengan produk sejenis di daerah lain, karena disamping memiliki keunggulan komparatif, juga mmemiliki efisiensi usaha yang tinggi (Ely, 2014). Komoditas unggulan merupakan hasil usaha masyarakat yang memiliki peluang pemasaran yang tinggi dan menguntungkan bagi masyarakat. Beberapa kriteria dari komoditas unggulan adalah :

  1. Mempunya daya saing yang tinggi di pasaran (keunikan/ciri spesififk, kualitas bagus, harga murah).
  2. Memanfaatkan potensi sumberdaya lokal yang potensial dan dapat dikembangkan.
  3. Mempunyai nilai tambah tinggi bagi masyarakat.
  4. Secara ekonomi menguntungkan dan bermanfaat untuk meningkatkan pendapatan dan kemampuan sumberdaya manusia.
  5. Layak didukung oleh modal bantuan atau kredit.

 Location  Quotient (LQ)

Location Quontient (LQ) digunakan untuk menentukan subsektor unggulan, ekonomi basis suatu wilayah dan komoditi basis wilayah. Pengunaan pendekatan LQ dimanfaatkan untuk menentukan sebaran komoditas atau melakukan identiikasi wilayah yang berdasarkan potensinya. Kelebihan metode ini dalam mengidentifikasi komoditas unggulan antara lain adalah penerapannya sederhana, mudah dan tidak memerlukan program pengolahan data yang rumit. Kelemahannya adalah data yang digunakan harus akurat dan range yang lama. Hasil olahan LQ tidak banyak manfaat jika data yang digunakan tidak valid. Oleh karena itu data yang digunakan perlu diklariifkasi dahulu dengan beberapa sumber data lainnya sehingga mendapatkan konsistensi data yang akurat (Hendayana.2003). Dalam analisis ini digunakan data yang dikeluarkan instansi resmi pemerintahan yaitu Biro Pusat Statistik.

Berdasarkan pemahaman terhadap teori ekonomi basis, teknik LQ relevan digunakan sebagai metode dalam menentukan komoditas unggulan khususnya dari sisi penawaran (produksi atau populasi). Untuk komoditas yang berbasis lahan seperti tanaman pangan, holtikultura, dan perkebunan, perhitungannya didasarkan pada lahan pertanian (area tanam atau area panen), dan produksi atau produktivitas. Sedangkan untuk komoditas pertanian yang tidak berbasis lahan seperti usaha ternak, dasar perhitungannya digunakan jumlah populasi (ekor).

Adapun rumus Location Quontient (LQ) sebagai berikut :

Dimana :

LQ = Location Quotient

pi = Produksi jenis komoditas i pada tingkat kabupaten/kota

pt = Produksi total komoditas pada tingkat kabupaten/kota

Pi = Produksi jenis komoditas i pada tingkat Provinsi Jambi

Pt = Produksi Total komoditas pada tingkat wilayah Provinsi Jambi

Dari hasil perhitungan analisis Location Quotient dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) bagian yaitu :

  1. Jika LQ > 1; maka komoditas yang bersangkutan ditingkat kabupaten/kota lebih berspesialisasi atau lebih dominan dibandingkan di tingkat provinsi. Komoditas ini dalam perekonomian ditingkat kabupaten/kota memiliki keunggulan komparatif dan dikategorikan sebagai komoditas “Basis”.
  2. Jika LQ = 1; maka komoditas yang bersangkutan baik ditingkat kabupaten/kota maupun di tingkat provinsi memiliki tingat spesialisasi atau dominan yang sama.
  3. Jika LQ < 1; maka komoditas yang bersangkutan ditingkat kabupaten/kota kuran berspesialisasi atau kurang dominan dibandingkan di tingkat provinsi. Komoditas ini dalam perekonomian ditingkat kabupaten/kota tidak memiliki keunggulan komparatif dan dikategorikan sebagai komoditas “Non-Basis”.


=========

III. Location Quotient (LQ) Dalam Penentuan Komoditas Unggulan
Perkebunan di Provinsi Jambi.

 Location Quotient (LQ) Komoditi Perkebunan

Untuk dapat diambil suatu kebijakan pengembangan sumberdaya perkebunan secara berkelanjutan maka perlu diketahui komoditi basis masing-masing daerah dalam wilayah Provinsi Jambi sebagaimana diuraikan pada bagian ini.

a.        Kabupaten Kerinci.

Hasil analisis nilai Location Quotient (LQ) pada Kabupaten Kerinci yang ditinjau dari segi produksi komoditas seperti tabel.. menunjukan bahwa komoditi yang memiliki nilai LQ > 1 atau merupakan Komoditi Basis terletak pada 13 komoditi dengan tipologi klassen sebagai berikut;


Dari 13 komoditi yang merupakan komoditi basis terdapat nilai tertinggi pada komoditi Vanili dan terkecil Kakao, namun dari sisi Typologi Klassen, Komoditi Kulit Manis berada pada kuadran Prima bersama dengan cengkeh, kopi robusta dan aren, sedangkan pada komoditi Vanili dengan nilai basis tertinggi berada pada kuadran tertinggal bersama komoditi Teh. Sebagaimana kita ketahui, komoditi Teh di kelola oleh Perusahaan negara dan cenderung tidak mengalami perubahan luas lahan yang juga mempengaruhi tingkat produksi yang stagnan.

Sedangkan jika kita lihat pada nilai inde spesialisasi (SI) terdapat 4 komoditi yang merupakan komoditi spesialisasi dengan nilai terbesar pada komoditi Kulit Kayu manis dan terkecil tembakau. Nilai SI memberikan penjelasan bahwa pada Kabupaten ini, komoditi Kulit kayu manis, Teh, Tebu dan tembakau merupakan komoditi spesialisasi dari sisi produksi.

 b.   Kabupaten Merangin.

Hasil analisis nilai Location Quotient (LQ) pada Kabupaten Merangin yang ditinjau dari segi produksi komoditas seperti tabel.. menunjukan bahwa komoditi yang memiliki nilai LQ > 1 atau merupakan Komoditi Basis terletak pada 6 komoditi dengan tipologi klassen sebagai berikut ;
Terdapat 6 komoditi yang merupakan komoditi basis terdapat nilai tertinggi pada komoditi Nilam dan terkecil pada komoditi Karet, namun dari sisi Typologi Klassen, Komoditi pada kuadran potensial.

Sedangkan jika kita lihat pada nilai inde spesialisasi (SI) terdapat hanya 2 komoditi yang merupakan komoditi spesialisasi dengan nilai terbesar pada komoditi Karet dan Kopi Robusta. Dimana Komoditi Karet kabupaten ini memberikan kontribusi 19,69 persen dari produksi total.

 c.   Kabupaten Sarolangun.

Hasil analisis nilai Location Quotient (LQ) pada Kabupaten Sarolangun yang ditinjau dari segi produksi komoditas seperti tabel.. menunjukan bahwa hanya 2 komoditi yang memiliki nilai LQ > 1 atau merupakan Komoditi Basis dengan tipologi klassen sebagai berikut ;

Dari komoditi yang merupakan komoditi basis terdapat nilai tertinggi pada komoditi Karet dan kapuk, namun dari sisi Typologi Klassen, Komoditi pada kuadran potensial.

Sedangkan jika kita lihat pada nilai index spesialisasi (SI) hanya komoditi Karet yang merupakan komoditi spesialisasi dengan nilai 12,72 dimana Komoditi Karet kabupaten ini memberikan kontribusi 17,25 persen dari produksi total.

d.   Kabupaten Batanghari.

Hasil analisis nilai Location Quotient (LQ) pada Kabupaten Batanghari yang ditinjau dari segi produksi komoditas seperti tabel.. menunjukan terdapat 6 komoditi yang memiliki nilai LQ > 1 atau merupakan Komoditi Basis dengan tipologi klassen sebagai berikut ;

 Dari komoditi yang merupakan komoditi basis terdapat nilai tertinggi pada komoditi Lada dan terkecil pada kelapa sawit. Sedankan komoditi yang masuk kedalam kuadran Prima hanya pada Karet dan kelapa sawit dan sisanya berada pada kuadran potensial dari sisi Typologi Klassen.

Sedangkan jika kita lihat pada nilai index spesialisasi (SI) hanya komoditi Karet dan kelapa sawit yang merupakan komoditi spesialisasi dengan nilai 9,19 pada Komoditi Karet dengan memberikan kontribusi 21,97 persen atau yang terbesar dari produksi total dan nilai SI 1,19 pada komoditi kelapa sawit.

 e    Kabupaten Muaro Jambi.

Hasil analisis nilai Location Quotient (LQ) pada Kabupaten Batanghari yang ditinjau dari segi produksi komoditas seperti tabel.. menunjukan terdapat 3 komoditi yang memiliki nilai LQ > 1 atau merupakan Komoditi Basis dengan tipologi klassen sebagai berikut ;

Dari komoditi yang merupakan komoditi basis terdapat nilai tertinggi pada komoditi Kakao/coklat dan terkecil pada kelapa sawit. Sedangkan komoditi yang masuk kedalam kuadran Prima hanya pada Kakao sedangkan Aren dan kelapa sawit berada pada kuadran potensial dari sisi Typologi Klassen.

Dari nilai index spesialisasi (SI) hanya komoditi kelapa sawit yang merupakan komoditi spesialisasi dengan nilai 16,33 pada Komoditi kelapa sawit ini dengan memberikan kontribusi 17,54 persen atau yang terbesar kedua dari produksi total pada komoditi kelapa sawit.

 

f.   Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Hasil analisis nilai Location Quotient (LQ) pada Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang ditinjau dari segi produksi komoditas seperti tabel.. menunjukan terdapat 6 komoditi yang memiliki nilai LQ > 1 atau merupakan Komoditi Basis dengan tipologi klassen sebagai berikut ;

Dari komoditi yang merupakan komoditi basis terdapat nilai tertinggi pada komoditi Pinang dan terkecil pada komoditi Kopi Robusta. Sedangkan komoditi yang masuk kedalam kuadran Prima hanya pada Pinang sedangkan yang lain berada pada kuadran potensial dari sisi Typologi Klassen.

Dari nilai index spesialisasi (SI) hanya komoditi Kelapa Dalam dengan nilai 39,10 dan Pinang spesialisasi index dengan nilai 4,42 dimana komoditi pinang memberikan kontribusi 49,89 persen dari produksi total pada komoditi pinang.

 g.      Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Hasil analisis nilai Location Quotient (LQ) pada Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang ditinjau dari segi produksi komoditas seperti tabel.. menunjukan terdapat 6 komoditi yang memiliki nilai LQ > 1 atau merupakan Komoditi Basis dengan tipologi klassen sebagai berikut ;

Dari komoditi yang merupakan komoditi basis terdapat nilai tertinggi pada komoditi Kelapa Dalam dan terkecil pada komoditi kelapa sawit. Sedangkan komoditi yang masuk kedalam kuadran Prima hanya pada Pinang sedangkan yang lain berada pada kuadran potensial dari sisi Typologi Klassen.

Dari nilai index spesialisasi (SI) semua komoditi yang basis daerah memiliki nilai SI > 1 dengan nilai 9,55 pada kelapa dalam yang merupakan produksi terbesar untuk komoditi ini dalam wilayah Provinsi Jambi dengan persentase 49,05, Komoditi Kelapa sawit 9,25 yang juga merupakan produksi terbesar dan SI 1,01 untuk komoditi Pinang dimana komoditi pinang memberikan kontribusi terbesar kedua yakni 48,30 persen dari produksi total pada komoditi pinang.

 h.     Kabupaten Tebo.

Hasil analisis nilai Location Quotient (LQ) pada Kabupaten Tebo yang ditinjau dari segi produksi komoditas seperti tabel.. menunjukan terdapat 2 komoditi yang memiliki nilai LQ > 1 atau merupakan Komoditi Basis dengan tipologi klassen sebagai berikut ;

 Pada Kabupaten Tebo yang merupakan komoditi basis terdapat nilai tertinggi pada komoditi Karet dengan typologi klassen Prima dan pada komoditi kelapa sawit Typologi Klassen Potensial.

Dari nilai index spesialisasi (SI) semua komoditi yang basis daerah memiliki nilai SI > 1 dengan nilai 8,26 dan Komoditi Kelapa sawit 1,98.

 

i.   Kabupaten Bungo.

Hasil analisis nilai Location Quotient (LQ) pada Kabupaten Bungo yang ditinjau dari segi produksi komoditas seperti tabel.. menunjukan terdapat 2 komoditi yang memiliki nilai LQ > 1 atau merupakan Komoditi Basis dengan tipologi klassen sebagai berikut ;

Pada Kabupaten Bungo memiliki tipe jenis basis yang sama dengan Kabupaten Tebo dimana yang merupakan komoditi basis terdapat nilai tertinggi 1,41 pada komoditi Karet dan komoditi kelapa sawit 1,04 dengan Typologi Klassen Potensial.

Dari nilai index spesialisasi (SI) semua komoditi yang basis daerah memiliki nilai SI > 1 dengan nilai 6,93 dan Komoditi Kelapa sawit 3,26.

 

j.        Kota Sungai Penuh.

Hasil analisis nilai Location Quotient (LQ) pada Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang ditinjau dari segi produksi komoditas seperti tabel.. menunjukan terdapat 9 komoditi yang memiliki nilai LQ > 1 atau merupakan Komoditi Basis dengan tipologi klassen sebagai berikut ;

Dari komoditi yang merupakan komoditi basis terdapat nilai tertinggi pada komoditi Kopi arabica dan terendah pada komoditi tebu, Sedangkan komoditi yang masuk kedalam kuadran Prima hanya pada Kulit Kayu Manis sedangkan yang lain berada pada kuadran potensial dari sisi Typologi Klassen.

Dari nilai index spesialisasi (SI) semua komoditi yang basis daerah memiliki nilai SI > 1 kecuali komoditi tebu tidak spesialisasi daerah. Nilai SI tertinggi terdapat pada komoditi Kulit kayu manis dan terendah untuk Nilai SI adalah cengkeh 1,08.

 

KESIMPULAN

 

  1. Terdapat Lima (5) komoditi dengan jumlah Petani terbanyak adalah komoditi kelapa sawit sebesar 51,50 persen, Kelapa Dalam, 21,44 persen dan Pinang 6,62 persen, Karet 6,17 persen dan Kopi Robusta 5,68 persen.
  2. komoditi pinang merupakan komoditi rata-rata pertumbuhan tertinggi adalah 19,79 persen dan terkecil Kelapa hibrida sebesar minus 14,15 persen.
  3. Kabupaten Kerinci memiliki 16 komoditi basis, dengan nilai LQ tertinggi Teh dan Vanili, sedangkan komoditi spesialisasi adalah Kulit Kayu Manis dengan nilai SI tertinggi 71,53.
  4. Kabupaten Merangin memiliki 6 komoditi basis, dengan nilai LQ tertinggi Nilam, komoditi spesialisasi tertinggi adalah Karet dengan nilai SI tertinggi 7,72.
  5. Kabupaten Sarolangun memiliki 2 komoditi basis, dengan nilai LQ tertinggi Salak 1,88, juga memiliki spesialisasi nilai SI tertinggi 12,79.
  6. Kabupaten Batanghari memiliki 6 komoditi basis, dengan nilai LQ tertinggi Lada 3,02, sedangkan komoditi spesialisasi adalah karet dengan nilai SI tertinggi 9,19.
  7. Kabupaten Muaro Jambi memiliki 3 komoditi basis, dengan nilai LQ tertinggi Kakao/coklat 2,72, sedangkan komoditi kelapa sawit spesialisasi dengan nilai SI tertinggi 16,33
  8. Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki 6 komoditi basis, dengan nilai LQ tertinggi Pinang 8,54, sedangkan komoditi spesialisasi adalah Kelapa Dalam dengan nilai SI tertinggi 39,10
  9. Kabupaten Tanjung Jabung Barat memiliki 3 komoditi basis, dengan nilai LQ tertinggi Kelapa Dalam 2,72, sedangkan komoditi spesialisasi juga adalah Kelapa Dalam dengan nilai SI tertinggi  9,55.
  10. Kabupaten Tebo memiliki 2 komoditi basis, dengan nilai LQ tertinggi Karet 1,49, sedangkan komoditi spesialisasi tertinggi juga adalah Karet dengan nilai SI 8,26
  11. Kabupaten Bungo memiliki 2 komoditi basis, dengan nilai LQ tertinggi Karet 1,41, sedangkan komoditi spesialisasi tertinggi juga adalah Karet dengan nilai SI 6,93
  12. Kabupaten Kota Sungai Penuh memiliki 9 komoditi basis, dengan nilai LQ tertinggi Kopi Arabica, sedangkan komoditi spesialisasi tertinggi adalah Kulit Kayu Manis dengan nilai SI 37,83.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2015. Provinsi Jambi Dalam Angka 2015., No.ISSN : 0215.2029. No. Publikasi: 15560.1525. Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi. Jambi.

------,2016. Provinsi Jambi Dalam Angka 2016., No.ISSN : 0215.2029. No. Publikasi: 15560.13.15. Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi. Jambi.

------,2018. Provinsi Jambi Dalam Angka 2017., No.ISSN : 0215.2029. No. Publikasi: 15560.1702. Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi. Jambi.

------,2018. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2018, No.ISSN : 2502-7492. No. Publikasi: 04210.1814. Badan Pusat Statistik Indonesia. Jakarta.

------,2018. Analisis Situasi Ketenagakerjaan Provinsi Jambi 2018, No.ISBN : 978-602-0784-30-4. No. Publikasi: 15520.1907. Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi. Jambi.

------,2019. Provinsi Jambi Dalam Angka 2019., No.ISSN : 0215.2029. No. Publikasi: 15560.1702. Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi. Jambi.

------,2019. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jambi 2014-2018, No. Publikasi: 15550.1803. Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi. Jambi.

Hendayana,Rachmat.2003. Aplikasi Metode Location Quotient (LQ) Dalam Penentuan Komoditas Unggulan Nasional. Informatika Pertanian. Volume 12(Desember 2013)

Tulisan Lain mungkin anda sukai

Editorial

Media Tani

Selengkapnya

Usaha Kecil Anda

Lainnya